
Tidak ramai yang tahu tentang beliau, seorang guru yang terkesan "Low Profile" ini tidak pernah menunjukkan diri ke permukaan. Kesehariannya sebagai guru halaqah Al-Qur'an di SDIT Darul Mukhlishin Karang Baru.
Ustadzah yang selalu mengenakan niqab/cadar ini mulai muncul di permukaan dalam event MTQ Tingkat Kabupaten Acrh Tamiang yang lalu. Cabang Musabaqah yang diikutinya juga bukan main-main, cabng Tafsir Al-Qur'an Bahasa Indonesia yang materu hafalannya 30 Juz.
Dalam bidang hafalan Al-Qur'an ternyata beliau seorang Hafizhah yang menamatkan program hafalan tersebut di salah satu institusi pendidikan khusus penghafal Al-Qur'an di Kota Medan. Sebelumnya, beliau merupakan Santriwati Alumni Pondok Pesantren Al-Hidayah Sungai Liput yang juga merupakan Pondok Pesantren super kontributif dqlam menyediakan stok peserta MTQ khususnya untuk Kecamatan Kejuruan Muda.
Dalam perjalanan menjaring peserta saat itu, LPTQ Kecamatan Rantau ditawarkan oleh Ummi Riska Wahyuni, yang juga merupakan pengurus LPTQ Rantau. Bhwa saat itu ia menyatakan ada temannya mengajar dan sudh hafidzah 30 Juz. sebelumnya juga sudah ada oerbincangan di antar mereka dan Ustadzah Tiara menyatakan pesanggupannya untuj mengikuti MTQ.
"Ini baru pertama kali bagi saya, dn ini saya masih sembunyikan dari pengetahuan orang tua, takutnya nggak dikasih", ungkap Ummi Riska mencontohkan kata-kata Ustadzah Tiara saat itu.
Seiring jalannya Musabaqah Tilawatil Qur'an, Ustadzah Tiara telah melewati fase kompetisi dan ditetapkan sebagai Juara II dalam ajang tersebut.
Saat dikonfirmasi perihal pengetahuan orang tuanya mengenai keterlubatannya dalam MTQ hingga menang, ia mengungkapkan "Alhamdulillah, diluar ekspektasi, orang tua saya justru senang, bangga dn mensupport saya untuk lebih giat lagi belajar sampai ke jenjang kompetisi tertinggi", tukasnya.
FYI, Saat ini Ustadzah Tiara tinggal bersama orang tua dan adiknya di Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan Muda. Ustadzah Tiara berasal dari keluarga yang kental dengan pahaman Muhammadiyah tulen. Bagi mereka, hafalan Al-Qur'n adalah benteng diri yang bukan untuk dikompetisikan. Mungkin inilah alasannya mengapa beliau terkesan menutup diri dari hiruk-pikuknya dunia luar yaitu agar tidak terkontaminasi dengan hal-hal negatif yang kian berkembang seiring perkembangan zaman.
Tapi menurut Ustadzah Tiara, "kini saya faham apa maksud MTQ itu diselenggarakan, yaitu agar uang dn air mata orang tua ketika menyekolahkan saya benar-benar terhargai dengan terjaganya ilmu dn hafalan saya. Dengan MTQ, saya jadi termotivasi dan giat mengulang hafalan dan terus ingin belajar dn belajar", ungkapnya.
