Ust. Mustaqim: Membina dari Pinggiran, Menggema ke Panggung MTQ

Gashp101
By -
0

Di sebuah sudut kecil Aceh Tamiang, jauh dari sorot lampu podium dan riuhnya sambutan resmi, lahir sebuah gerakan sunyi. Ia tidak digerakkan oleh anggaran, tidak pula oleh instruksi. Ia tumbuh dari keresahan yang disimpan lama—tentang betapa kosongnya ruang pembinaan Qur’ani di negeri yang seharusnya kaya akan suara-suara surgawi.



Ustadz Mustaqim, seorang pembina muda, yang memutuskan untuk tidak tinggal diam. Di saat sebagian sibuk mencatat grafik kekalahan Aceh Tamiang dalam MTQ provinsi dari tahun ke tahun, ia justru turun ke akar, menanam bibit yang lama tak ditanam—bibit cinta pada Al-Qur’an, bibit tilawah yang nyaris punah

Ia bukan peraih juara di tingkat tinggi, namun suara dan nada-nada yang ia bentuk di ruang latihannya kini perlahan terdengar di mimbar-mimbar musabaqah. Ia tidak pernah menggenggam piala, tapi ia menggenggam harapan.

Rumah Tilawah Hadijah, lembaga kecil yang ia dirikan, lahir bukan dari proyek besar. Ia tumbuh dari semangat, dari mimpi, dan dari rasa tanggung jawab yang tidak bisa ditunda lagi. Di rumah itu, anak-anak datang. Ada yang dipanggil, ada yang datang sendiri. Mereka duduk bersila, membawa mushaf, dan memulai perjalanan yang mungkin akan mengubah hidup mereka.

Mereka bukan anak-anak dari keluarga besar kota. Mereka berasal dari lorong-lorong kampung, dari dusun yang bahkan tak tercatat di peta Google. Tapi suara mereka, setelah disentuh oleh bimbingan sabar Ustadz Mustaqim, berubah menjadi nada-nada langit. Makhraj mereka dibetulkan, lagu mereka dibentuk, dan hati mereka diarahkan.

Perlahan tapi pasti, gema suara mereka mulai terdengar di panggung MTQ tingkat kecamatan dan kabupaten. Ada yang mewakili Seruway, ada yang tampil atas nama Kejuruan Muda, ada pula yang mengusung nama Rantau. Mereka tampil dengan nada yang khas, seolah ada ruh pembinaan yang sama. Dan mereka—tanpa banyak yang tahu—adalah anak-anak binaan dari satu guru yang tidak pernah menuntut pengakuan.

Namun, Mustaqim tidak berjalan sendiri. Di balik gerakan sunyi ini, ada lingkaran kecil yang tak kalah berani—para sahabat seperjuangan, teman-teman yang tidak hanya ikut melatih dan membantu, tapi juga siap “menahan badan” ketika tekanan datang. Mereka bukan orang-orang dengan nama besar, tapi punya hati besar. Ada yang rela menyisihkan waktu malamnya, ada yang menjemput anak-anak peserta dari dusun, ada yang menyumbang sebisanya untuk kebutuhan lomba. Mereka adalah barisan senyap yang menjadi pilar tak terlihat dari gerakan ini. Mereka bukan sekadar rekan, tapi penyangga harapan.

Aceh Tamiang memang sedang berada di titik kritis dalam peta prestasi MTQ. Di MTQ Pidie, Bener Meriah, hingga Simeulue, nama kabupaten ini nyaris tak terdengar di deretan juara. Tapi dari balik kegagalan itu, diam-diam tumbuh bara kecil yang kini mulai menyala. Bara itu adalah semangat pembinaan akar rumput, yang tak menunggu dikasihani, tak menunggu anggaran turun, tapi bekerja diam-diam, setiap sore dan malam.

Ustadz Mustaqim dan Rumah Tilawah Hadijah menjadi cermin kecil harapan besar. Bahwa pembinaan tidak harus dimulai dari gedung megah atau nama besar. Ia bisa dimulai dari rumah kecil, dari semangat satu orang, dari sujud-sujud panjang dan dzikir yang terus mengiringi—dan dari sahabat-sahabat yang setia menopang dari balik layar.

Kini, mata mulai melirik. Masyarakat yang awalnya tak paham perbedaan antara tartil dan tilawah, kini mulai bertanya kapan anak mereka bisa belajar. Para pejabat yang sebelumnya berjarak, mulai menyempatkan hadir melihat. Dan LPTQ tingkat kecamatan pun membuka tangan, memberi ruang, serta menyampaikan apresiasi secara terbuka.

Gerakan ini bukan revolusi besar. Ia hanya gerakan sunyi. Tapi dalam kesunyiannya, ia mengetuk banyak pintu. Ia menggugah para pemilik hati, bahwa masih ada mutiara-mutiara Qur’ani di Aceh Tamiang yang hanya perlu disentuh, diasah, dan didorong sedikit ke permukaan.

Dan nama Mustaqim, yang dulu hanya disebut dalam daftar peserta MTQ, kini mulai hidup dalam cerita para pembina, panitia, hingga peserta sendiri. Ia bukan lagi hanya guru. Ia telah menjadi simbol bahwa membina dari pinggiran bisa menggema ke panggung utama.

Dalam tilawah, setiap nada yang baik harus datang dari hati yang bersih. Mungkin itulah mengapa suara-suara dari Rumah Tilawah Hadijah terdengar lebih jujur, lebih teduh, dan lebih menyentuh. Karena mereka lahir dari cinta, bukan dari target.

Aceh Tamiang belum selesai. Masih banyak PR besar yang menunggu diselesaikan. Tapi jika ada satu hal yang patut disyukuri dari kegagalan kemarin, maka itulah lahirnya gerakan kecil seperti ini—yang tidak menunggu momen, tapi menciptakan momen.

Membina dari pinggiran, ternyata bukan hal sia-sia. Karena suara yang jujur dan penuh cinta, akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk sampai ke langit.


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default
Pengunjung: 0