Kegiatan yang mengusung motto “Santri Betuah” (Santri Berprestasi, Tahu Mengaji, Berakhlakul Karimah) ini menjadi salah satu program unggulan Dinas Dayah yang bertujuan memberikan ruang edukatif, inspiratif, dan kompetitif bagi generasi muda Aceh Tamiang.
Kecamatan yang telah menampilkan delegasinya pada sesi sebelum Ashar adalah Bendahara, Sekerak, Rantau, Seruway, Bandar Pusaka, dan Kota Kualasimpang. Setiap kelompok menunjukkan penampilan yang solid dan penuh semangat, khususnya dalam cabang Syarhil Qur’an, yang menjadi pusat perhatian pada hari pertama pelaksanaan festival.
Syarhil Qur’an merupakan perlombaan yang menuntut keterampilan membaca ayat Al-Qur’an, menjelaskan makna kandungannya, dan menyampaikan pesan dakwah secara retoris dan terstruktur. Dalam hal ini, para peserta tampil dengan penguasaan materi yang baik, artikulasi yang jelas, serta kekompakan dalam penyampaian pesan.
“Penampilan hari ini membuat kami harus bekerja ekstra dalam menilai. Semuanya tampil baik. Dari segi teknik, ekspresi, maupun pesan dakwah, anak-anak sudah menunjukkan kelasnya masing-masing,” ujar salah satu dewan juri seusai sesi pertama.
Selepas Ashar, enam kecamatan lainnya dijadwalkan tampil, termasuk Kecamatan Banda Mulia sebagai penutup sesi. Dengan demikian, seluruh 12 kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang akan berpartisipasi penuh dalam kegiatan ini.
Festival ini menjadi ajang penting dalam pembinaan dan pengembangan bakat anak-anak sejak usia dini. Selain sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas pemahaman agama dan keterampilan berbicara di depan umum, kegiatan ini juga menjadi media untuk memperkuat silaturahmi dan kerja sama antarkecamatan.
“Kami yakin, setelah Ashar suasana akan semakin hangat. Kalau penampilan pagi saja sudah sangat kompetitif, sore ini bisa jadi akan lebih menarik lagi. Anak-anak terlihat siap secara mental dan teknis,” kata seorang panitia penyelenggara.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan aktif dari para guru pendamping, tokoh masyarakat, serta pihak kecamatan yang turut hadir memberi semangat kepada para peserta. Suasana di lokasi acara terasa meriah namun tetap tertib, dengan semangat kekeluargaan dan kebersamaan yang kuat.
Salah seorang guru pendamping dari Kecamatan Rantau menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan ini.
“Festival seperti ini sangat bermanfaat. Anak-anak belajar banyak hal—berbicara di depan umum, kerja sama tim, dan memahami ayat Al-Qur’an secara lebih mendalam. Ini juga bentuk pembinaan karakter sejak dini,” ujarnya.
Dengan kualitas penampilan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, Festival Anak Shaleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh Tamiang diharapkan menjadi ajang tahunan yang terus berkembang. Motto “Santri Betuah” bukan sekadar slogan, tetapi cerminan harapan bersama untuk melahirkan generasi yang unggul dalam prestasi, paham ilmu agama, dan berakhlak mulia.

